Upacara Kasada Suku Tengger: Keindahan Alam Bromo dan Tradisi Unik Lempar Sesaji
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tidak hanya terkenal dengan pemandangan sunrise yang spektakuler dan lautan pasir yang luas. Di balik panorama alam yang menakjubkan ini, terhampar tradisi dan budaya Suku Tengger yang unik dan otentik. Puncak dari keunikan budaya ini adalah Upacara Yadnya Kasada, sebuah ritual tahunan yang memadukan spiritualitas Hindu Dharma dengan kepercayaan lokal yang berakar kuat pada gunung berapi. Keindahan Alam Bromo menjadi saksi bisu sekaligus panggung megah dari tradisi ini, di mana ribuan umat Hindu Tengger berkumpul untuk melangsungkan ritual persembahan yang ekstrem dan penuh makna.
Upacara Kasada dilaksanakan setiap bulan Kasada (bulan ke-12 dalam kalender Tengger) pada hari ke-14, biasanya bertepatan dengan bulan purnama, yang jatuh sekitar pertengahan tahun. Ritual dimulai dengan prosesi persembahyangan di Pura Luhur Poten yang terletak di tengah lautan pasir. Setelah doa selesai, puncak dari ritual ini adalah perjalanan menuju Kawah Gunung Bromo. Pada dini hari, ribuan umat Tengger dan wisatawan berkumpul di bibir kawah yang berpasir, siap untuk melakukan tradisi unik melempar sesaji.
Sesaji (ongkek) yang dilempar ke dalam kawah melambangkan rasa syukur atas hasil panen dan ternak yang telah diberikan alam. Sesaji ini berisi berbagai hasil bumi, mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, hingga ayam atau bahkan uang. Tradisi unik lempar sesaji ini berakar dari legenda Rara Anteng dan Joko Seger, leluhur Suku Tengger. Mereka dipercaya mengorbankan putra bungsu mereka, Kusuma, ke kawah sebagai pemenuhan janji kepada dewa, yang kemudian kawah tersebut dijadikan tempat persembahan abadi. Pengorbanan sesaji ini dipercaya akan membawa keselamatan, kemakmuran, dan keseimbangan bagi masyarakat Tengger selama setahun ke depan.
Dalam konteks pariwisata, Keindahan Alam Bromo selama Kasada tidak tertandingi. Seluruh kawasan diselimuti suasana spiritual yang kental. Pihak pengelola Taman Nasional selalu bekerja sama dengan Kepolisian Sektor Sukapura (Polsek Sukapura) untuk mengatur lalu lintas dan keamanan selama puncak upacara. Pada pelaksanaan Kasada tahun 2024 (yang jatuh pada 21 Juni 2024), kawasan lautan pasir sempat ditutup sementara untuk kendaraan biasa dan hanya dibuka untuk kendaraan roda empat berpenggerak 4×4, guna menjaga kelancaran prosesi ritual.
Keindahan Alam Bromo yang didominasi oleh lautan pasir gelap dan kaldera raksasa ini memberikan latar belakang kontras yang dramatis bagi ritual sakral yang cerah. Melalui Upacara Kasada, Suku Tengger tidak hanya melestarikan warisan nenek moyang mereka, tetapi juga mengajarkan dunia tentang pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Tradisi unik ini menjadikan Bromo lebih dari sekadar tujuan wisata; ia adalah pusat kebudayaan hidup yang terus berdetak.
