Pengembangan Pelabuhan Internasional di Surabaya: Konektivitas Maritim Kawasan Timur
Surabaya, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dan gerbang utama Jawa Timur, memegang peranan krusial dalam rantai pasok nasional. Dalam kerangka visi Poros Maritim Dunia, Pengembangan Pelabuhan Internasional di Surabaya: Konektivitas Maritim Kawasan Timur telah menjadi proyek strategis nasional yang bertujuan untuk memperkuat infrastruktur logistik Indonesia bagian timur. Pengembangan Pelabuhan Internasional di Surabaya meliputi perluasan dermaga, peningkatan kedalaman kolam pelabuhan, dan modernisasi peralatan bongkar muat untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi penanganan kargo. Peningkatan ini sangat vital untuk mengintegrasikan wilayah Indonesia Timur ke dalam jaringan perdagangan global, sekaligus mengurangi biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan utama.
Proyek Pengembangan Pelabuhan Internasional di Surabaya berfokus pada perluasan Pelabuhan Tanjung Perak dan pembangunan Terminal Teluk Lamong. Dengan peningkatan fasilitas, pelabuhan ini diharapkan mampu menampung kapal-kapal kontainer besar (Post-Panamax) yang sebelumnya harus singgah di pelabuhan lain di Asia Tenggara. Peningkatan kapasitas ini akan secara langsung mendorong Konektivitas Maritim Kawasan Timur Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan per 20 Maret 2025, efisiensi waktu bongkar muat (Port Stay) di pelabuhan telah berkurang rata-rata 12 jam setelah fase modernisasi peralatan rampung, sebuah indikator kunci dari peningkatan daya saing.
Prospek jangka panjang dari pengembangan ini adalah menjadikan Surabaya sebagai hub regional yang melayani transfer kargo dari dan ke wilayah timur, seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua, menggantikan ketergantungan pada pelabuhan di wilayah barat atau negara tetangga. Upaya ini mendukung program Tol Laut, memastikan distribusi barang menjadi lebih merata dan harga komoditas lebih stabil. Analisis ekonomi yang dilakukan oleh Pusat Kajian Ekonomi Maritim Universitas Airlangga pada 10 November 2025, memperkirakan bahwa peningkatan Konektivitas Maritim Kawasan Timur melalui Surabaya berpotensi menurunkan biaya logistik antar-pulau sebesar 5-7%.
Meskipun progresnya signifikan, tantangan terkait infrastruktur pendukung, seperti akses jalan tol dan kereta api menuju pelabuhan, masih perlu dioptimalkan untuk menghindari kemacetan dan penundaan kargo. Selain itu, aspek keamanan siber dan fisik di area pelabuhan harus ditingkatkan. Kepala Kepolisian Resort Pelabuhan Tanjung Perak, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Rendra, dalam pertemuan koordinasi keamanan logistik pada hari Sabtu, 5 April 2025, menjamin bahwa pengawasan terhadap praktik dwelling time yang tidak efisien akan terus diperketat untuk mendukung kelancaran arus barang. Dengan demikian, Pengembangan Pelabuhan Internasional di Surabaya adalah investasi strategis untuk masa depan logistik maritim Indonesia.
