Menggali Sejarah Majapahit: Jejak Kebudayaan Kerajaan Terbesar di Trowulan

Kerajaan Majapahit, yang mencapai masa keemasan pada abad ke-14 di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, adalah salah satu imperium maritim terbesar yang pernah ada di Nusantara. Untuk Menggali Sejarah kejayaan dan kemegahan kerajaan ini, Trowulan, yang kini menjadi sebuah kecamatan di Mojokerto, Jawa Timur, adalah lokasi yang tak terbantahkan. Trowulan diyakini sebagai pusat ibu kota Majapahit, dan upaya Menggali Sejarah di situs ini telah mengungkap kompleksitas arsitektur, teknologi, dan kebudayaan masa lalu. Menggali Sejarah Majapahit di Trowulan memberikan pemahaman nyata tentang bagaimana sebuah kerajaan maritim mampu menyatukan nusantara di bawah satu kekuasaan.


1. Trowulan: Ibu Kota yang Hilang

Trowulan bukanlah sekadar situs purbakala; ia adalah sisa-sisa dari sebuah kota metropolitan kuno yang pernah menjadi pusat politik, ekonomi, dan budaya Asia Tenggara.

  • Penemuan Arkeologis: Situs Trowulan pertama kali diidentifikasi secara serius pada awal abad ke-19, namun penggalian sistematis dan pengakuan resmi baru terjadi pada abad ke-20. Survei arkeologi yang dilakukan pada tahun 2008 mengindikasikan bahwa kota kuno ini diperkirakan membentang seluas lebih dari $100$ kilometer persegi, menjadikannya salah satu kota terbesar di dunia pada masanya.
  • Jejak Peradaban: Arkeolog telah menemukan sisa-sisa istana (kraton) yang diduga menjadi kediaman raja, sistem kanal air yang canggih, dan jaringan jalan yang terstruktur. Penemuan pecahan keramik dari Dinasti Yuan dan Ming (Tiongkok) menunjukkan hubungan perdagangan internasional yang erat.

2. Arsitektur dan Peninggalan Ikonik

Situs Trowulan dipenuhi dengan peninggalan bangunan bata merah yang menjadi ciri khas arsitektur Majapahit.

  • Candi Tikus: Peninggalan yang paling terkenal adalah Candi Tikus. Meskipun namanya unik, candi ini diyakini berfungsi sebagai tempat pemandian suci (petirtaan) kerajaan. Bentuknya yang berundak-undak menunjukkan adanya perpaduan kepercayaan Hindu-Buddha yang harmonis pada masa itu.
  • Candi Brahu dan Wringin Lawang: Candi Brahu diyakini sebagai tempat kremasi raja-raja Majapahit, sedangkan Gerbang Wringin Lawang adalah gerbang paduraksa (gerbang beratap) raksasa yang diperkirakan merupakan gerbang utama menuju kompleks kediaman bangsawan atau istana. Gerbang ini memiliki tinggi sekitar $15.5$ meter dan merupakan bukti teknik pembangunan bata merah yang canggih.

3. Kebudayaan dan Teknologi Majapahit

Di Trowulan, ditemukan banyak artefak yang menunjukkan tingkat kemajuan kebudayaan dan teknologi Majapahit.

  • Mata Uang Lokal: Majapahit adalah salah satu kerajaan Nusantara yang mencetak mata uang koinnya sendiri, yang terbuat dari campuran tembaga dan timah. Penemuan koin-koin ini membuktikan adanya sistem ekonomi yang terorganisir, tidak hanya mengandalkan sistem barter.
  • Museum Trowulan: Artefak yang ditemukan, termasuk patung terakota (seperti celengan berbentuk babi dan berbagai kepala manusia), perhiasan emas, dan berbagai alat rumah tangga, kini dipamerkan di Museum Majapahit di Trowulan. Museum ini berfungsi sebagai pusat informasi utama, memberikan gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat Majapahit yang multikultural dan maju. Koleksi utama museum ini dipindahkan dan diregistrasi secara resmi pada 11 November 1987.

Upaya konservasi yang dilakukan pemerintah dan arkeolog bertujuan agar Trowulan dapat diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, memastikan bahwa kejayaan Majapahit dapat dipelajari oleh generasi mendatang.