Fakta Dapur Jatim: Perjuangan Ibu Rumah Tangga Atur Gizi di Tengah Harga Naik

Realitas mengenai Ibu Rumah Tangga Atur Gizi kini menjadi sebuah seni bertahan hidup yang sangat rumit. Dengan pendapatan yang cenderung stabil namun harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, para ibu harus memutar otak setiap pagi sebelum pergi ke pasar. Protein yang biasanya didapat dari daging sapi kini mulai digantikan sepenuhnya oleh telur atau tempe. Masalahnya, bahkan harga pangan nabati pun tidak luput dari kenaikan, menciptakan efek domino yang dirasakan langsung oleh anggota keluarga di meja makan.

Ada sebuah Fakta yang jarang dibahas secara mendalam di ruang publik, yaitu mengenai beban psikologis para ibu. Mereka adalah orang pertama yang merasa bersalah ketika asupan gizi anak-anak mereka menurun. Di tengah narasi pencegahan stunting yang digalakkan pemerintah, para ibu di Jawa Timur ini justru dihadapkan pada kenyataan bahwa harga susu, sayuran hijau, dan buah-buahan sering kali tidak terjangkau oleh anggaran harian mereka. Mereka harus memilih antara membeli kuota internet untuk sekolah anak atau membeli satu kilogram ikan segar.

Kondisi Harga Naik ini memicu perubahan pola konsumsi di banyak rumah tangga. Banyak yang akhirnya beralih ke makanan instan atau makanan olahan yang harganya jauh lebih murah namun memiliki kandungan gizi yang sangat rendah. Dampak jangka panjangnya tentu sangat mengkhawatirkan bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan. Meskipun pasar-pasar tradisional di Jawa Timur tetap ramai, volume belanjaan warga menyusut drastis. Jika dulu mereka membeli dalam satuan kilogram, kini mereka terbiasa membeli dalam satuan eceran yang jauh lebih mahal jika diakumulasikan.

Di tengah situasi yang sulit ini, muncul Perjuangan kolektif melalui gerakan kebun pangan mandiri atau komunitas belanja bersama. Beberapa ibu rumah tangga mulai memanfaatkan lahan sempit di depan rumah untuk menanam cabai, tomat, dan sayuran lainnya. Gerakan ini adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakpastian harga pasar. Namun, tidak semua warga memiliki akses terhadap lahan atau pengetahuan untuk bertani secara mandiri, sehingga ketergantungan pada pasar tetap menjadi masalah utama yang menghantui setiap hari.

Pemerintah daerah memang sering melakukan operasi pasar, namun langkah ini sering kali hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar permasalahan distribusi. Rantai pasok yang panjang dari petani hingga ke tangan konsumen membuat selisih harga menjadi sangat tinggi. Para ibu di Jawa Timur sangat mendambakan adanya stabilitas harga yang nyata, bukan sekadar janji saat pemilu. Kedaulatan pangan seharusnya dimulai dari kemampuan setiap dapur untuk menyediakan makanan bergizi tanpa harus mengorbankan kebutuhan mendasar lainnya.